Para nabi adalah manusia-manusia suci pilihan Allah yang diutus untuk menunjuki dan  membimbing manusia menuju pada puncak kebahagiaan. Mereka memiliki keutamaan, ilmu dan hikmah yang tinggi serta suci dari segala dosa. Hanya di bawah naungan taufik dan bimbingan ilahi, manusia-manusia agung ini menyampaikan risalahnya. Oleh karenanya, mereka senantiasa memohon bantuan dan pertolongan ilahi dan taat serta tunduk di hadapan kebesaran dan kekuatan-Nya.

Di dalam al-Quran ada kisah tentang pengadilan Nabi Daud as terkait dua orang yang mengadu kepadanya. Kisah ini menunjukkan hakikat bahwa para nabi senantiasa membutuhkan bimbingan dan bantuan ilahi. Al-Quran dalam ayat 17 sampai 20 surat Shad, menyanjung Nabi Daud as dengan karakternya yang bagus seperti penghambaan dan pengabdian, ahli taubat, memiliki kekuatan, hikmah dan pengetahuan. Di dalam ayat 21, kisah ini dimulai dengan sebuah pertanyaan yang berbunyi, “Dan adakah sampai kepadamu berita orang-orang yang berperkara ketika mereka memanjat pagar?

Di lantai dua kamarnya, Nabi Daud as sedang beribadah memuji Allah dan berkata, “Ya Allah, segala puji bagi-Mu. Engkau telah memberikan ilmu dan keutamaan kepadaku dan mengajariku hikmah.” Pada saat itu datanglah dua orang kepadanya dan Daud as terkejut. Kepada Daud kedua orang itu berkata, “Janganlah kamu merasa takut. Kami adalah dua orang yang berperkara. Salah seorang dari kami berbuat zalim kepada yang lainnya. Sekarang berilah keputusan antara kami dengan adil dan janganlah kamu menyimpang dari kebenaran dan tunjukilah kami ke jalan yang lurus.” (QS. Shad:22)

Satunya lagi sambil menunjuk pada yang lainnya berkata, “Hai Daud! Ini adalah saudaraku. Ia memiliki sembilan puluh sembilan ekor kambing betina dan aku mempunyai seekor saja. Pada saat yang sama, kepada saya ia berkata: “Serahkanlah kambingmu itu kepadaku dan dia mengalahkan aku dalam perdebatan.” (QS. Shad: 23)

Menyaksikan ketamakan ini Daud as terheran-heran dan tanpa mencari sebab-sebabnya segera ia berkata, “Sesungguhnya dia telah berbuat zalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kambingnya. Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu menzalimi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, tapi jumlah mereka sangat sedikit” (QS. Shad: 24)

Kedua orang itu mendengarkan ucapan Daud as lalu pergi. Namun Daud baru memahami apa sebenarnya yang terjadi dan sadar kalau ia gegabah dalam menghakimi dan menyesalinya. Kepada dirinya sendiri ia berkata, “Celakalah aku! Selama ini aku selalu menghakimi dengan adil, tapi kali ini aku gegabah dalam mengadili. Boleh jadi kambing yang satu itu juga milik orang yang memiliki sembilan puluh sembilan kambing itu. Daud as memahami bahwa dengan kejadian ia tengah dihadapkan dengan sebuah ujian. Ia tahu bahwa Allah Yang Maha Pengasih telah memberikan berita gembira bahwa siapa saja yang bertaubat, maka taubatnya akan diterima. Oleh karena itu, ia memohon ampunan kepada Allah dan bersujud seraya berkata, “Ya Allah, dengan ini Engkau telah mendidikku menyadarkan diriku akan ketidakmampuanku di hadapan ilmu-Mu. Ampunilah aku dan jadilah penolongku sebagaimana sebelumnya!”

Maka Kami ampuni baginya kesalahannya itu. Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan yang dekat di sisi Kami dan tempat kembali yang baik.

Hai Daud, sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan. (QS. Shad: 25-26)

Terkait posisi dan kedudukan Daud as dan putranya Sulaiman as, di dalam al-Quran Allah berfirman, “Dan sesungguhnya Kami telah memberi ilmu kepada Daud dan Sulaiman; dan keduanya mengucapkan: “Segala puji bagi Allah yang telah melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hambanya yang beriman.” (QS. Naml: 15) (IRIB Indonesia / Emi Nur Hayati)