Menteri BUMN Dahlan Iskan meminta pembuat mobil listrik, Dasep Ahmadi untuk terus menyempurnakan mobil karyanya sebelum diproduksi massal pada 2013.

“Saya sudah melakukan ujicoba mobil listrik tersebut. Tidak ada masalah, namun saya meminta Dasep untuk menginventarisir apa saja yang harus disempurnakan,” kata Dahlan, usai Rapat Pimpinan Kementerian BUMN, di Gedung PT Perusahaan Gas Negara (PGN), Jakarta, Selasa.

Menurut Dahlan, dalam sebulan terakhir ia mengendarai prototipe mobil listrik hasil karya Dasep Ahmadi dengan nama Ahmadi Mesin 5.0.

“Saya ujicoba jalur Jakarta-Bogor-Puncak. Ahmadi sendiri saat Lebaran kemarin mencoba jalur Jakarta-Bandung melalui Puncak, pergi pulang. Sejauh ini tidak ada lagi kendala,” tegasnya.

Jika ujicoba tersebut diukur, maka jarak tempuh mobil listrik yang dibanderol sekitar Rp200 juta ini sudah lebih dari 2.000 kilometer.

Meski demikian, Dahlan meminta Dasep untuk tidak berpuas diri, harus dipastikan bahwa mobil tersebut sangat layak untuk diproduksi massal.

“Kalau semua sudah beres, tidak ada lagi kendala, maka saya akan pesan tiga unit lagi yang merupakan hasil penyempurnaan tersebut,” ujarnya.

Diketahui, saat ini selain mobil listrik hasil karya Dasep Ahmadi dengan nama Ahmadi Mesin 5.0 ini, empat prototipe mobil listrik lainnya sudah selesai, yaitu sekelas Carry, sekelas Avanza, Yaris, dan Ferrari.

Seluruh jenis mobil listrik tersebut “dikeroyok” lima orang putra bangsa yang disebut sebagai “Pendawa Putra Petir”.

Dahlan menambahkan, pengembangan mobil listrik mewah sekelas Ferrari, diakui Dahlan mengalami kendala, terutama pasokan baterai.

Diketahui baterai merupakan komponen utama mobil listrik di mana harganya bisa mencapai 60 persen dari harga mobil listrik.

Ia mengakui, beberapa waktu lalu pasokan baterai yang diimpor dari luar negeri sempat terhambat di pelabuhan oleh Ditjen Bea Cukai.

“Tapi sekarang sudah bisa keluar dari pabean, dan sedang digunakan untuk protipe Ferrari,” ujar Dahlan.

Pemerintah menargetkan mobil listrik bisa diproduksi secara massal dengan “road map” industriĀ  pada 2014.

Untuk menjadi industri skala nasional pada 2014, akan diproduksi 10.000 unit mobil listrik.

“Saat ini, Kementerian Negara Badan Usaha Milik Negara, Kementerian Riset dan Teknologi, serta Kementerian Pendidikan Nasional, Kementerian Perindustrian tengah menggarap peta jalan atau `road map` industri mobil listrik nasional,” kata Menteri Perindustrian M.S Hidayat di Jakarta, Rabu.

Penggarapan industrialisasi mobil listrik, menurut Hidayat, memasuki tahap pengembangan teknologi.

“Para pengembang, yang terdiri atas akademisi, industri, serta badan usaha milik negara sedang mempelajari beberapa desain mobil listrik di sejumlah negara,” ujarnya.

Pengamat otomotif Suhari Sargo berpendapat mobil listrik sulit bersaing dengan kendaraan berbahan bakar minyak karena belum memadainya infrastruktur penunjang.

“Dengan kapasitas baterai dan infrastruktur pengisian listrik yang belum tersedia, mobil listrik bisa disejajarkan dengan kelas mobil dalam kota dengan harga di bawah Rp200 juta. Selain itu, pasar mobil di Indonesia masih dikuasai kendaraan berbahan bakar minyak,” katanya.

Meski proyek nasional ini sudah terlihat, tutur Suhari, namun masih ada beberapa kendala yang berpotensi menghambat.

“Selain belum ada rancangan baterai yang mumpuni, harga jual mobil listrik diperkirakan lebih mahal dibanding kendaraan sekelasnya,” ujarnya. (IRIB Indonesia/Antara/PH)